Siapa tidak butuh uang? Uang adalah alat tukar yang digunakan dalam
transaksi untuk mendapatkan barang di dunia ini. Semua orang
membutuhkannya, termasuk kita, para pengikut Kristus. Kerap, uang
menjadi ukuran status sosial seseorang. Makin besar jumlah uang yang
dimiliki, makin seseorang dipandang kaya dan terhormat, demikian pula
sebaliknya. Tak heran, banyak orang terjerumus dalam jerat “cinta uang”.
Uang menjadi segala-galanya dalam hidup. Uang mengendalikan sikap dan
perilaku orang. Uang menjadi penentu apakah seseorang merasa bahagia dan
berarti dalam hidup, atau tidak. Padahal, bukankah uang adalah alat
tukar semata? Aku pernah mendengar nasihat, “Peralatlah uang, jangan
diperalat oleh uang”. Kupikir ini nasihat yang sangat baik. Kita
diciptakan Tuhan untuk menjadi pengelola yang baik dari segala sesuatu
dalam dunia ciptaan-Nya (Kejadian 1:28). Itu artinya kita pun dipercaya
untuk mengelola uang yang sangat penting peranannya dalam hidup di dunia
modern ini.
Aku sendiri masih terus belajar untuk mengelola uang dengan baik.
Dari apa yang Tuhan izinkan aku punya setiap bulan, aku berusaha
mendisiplin diri untuk memberi perpuluhan (10% dari uang yang aku
dapatkan), memberi bantuan atau diakonia kepada sesama yang membutuhkan
(juga 10%), dan menabung (10%). Aku ingin menaati apa yang dikatakan
Firman Tuhan dalam hal:
1. Memberi perpuluhan
“Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan …” (Maleakhi 3:10)
2. Memberi diakonia
“Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberi tumpangan” (Roma 12:13)
“Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan
mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu,
supaya ada keseimbangan.” (2Kor.8:14)
3. Rajin menabung untuk mencukupi kebutuhan hidup
Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen membuat malu (Ams.10:5)
Praktiknya memang tidak mudah. Kadang ada saja rasa “kurang”, dan
ingin memberi lebih sedikit. Padahal sebenarnya, kalau dihitung-hitung,
aku masih punya 70% bagian yang bisa kupakai. Mengapa masih merasa tak
cukup? Tenyataaaa…. cara kita mengelola uang bisa menolong kita makin
mengenali kecenderungan hati kita, apa yang menurut kita paling penting
dalam hidup ini. Sikap kita terhadap uang mencerminkan sikap kita
terhadap Tuhan. Ada saatnya kita mungkin berusaha dengan sangat ketat
menjaga uang kita, berhemat luar biasa, bahkan tak sudi berbagi dengan
sesama yang membutuhkan, karena selalu khawatir akan berkekurangan. Kita
mengeluh bahwa orang lain selalu mendapat lebih banyak dan kita selalu
mendapat lebih sedikit. Tanpa sadar kita membatasi Tuhan, seolah Dia tak
sanggup memberkati kita. Kita lupa bahwa sesungguhnya Dialah Sumber
segala sesuatu. Sebaliknya, ada pula saat-saat ketika kita menggunakan
uang kita tanpa pikir panjang untuk hal-hal yang tidak penting, lalu
mengeluh saat kekurangan uang, memohon Tuhan untuk segera bertindak
menolong kita. Tanpa sadar kita memperlakukan Tuhan seperti “mesin atm”,
tapi kita lupa bahwa Tuhan-lah Pemilik harta kita sesungguhnya, dan
kita harus mempertanggungjawabkan penggunaan uang kita kepada-Nya.
Pastinya peringatan yang diberikan Firman Tuhan bener banget: “akar
segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa
orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan
berbagai-bagai duka” (1Tim.6:10). Untuk belajar mengelola uang, kita
pertama-tama perlu belajar mengelola hati. Kita perlu memeriksa
bagaimana sikap hati kita sesungguhnya terhadap Tuhan. Kita perlu terus
menjaga agar cinta kita kepada Tuhan tidak dikalahkan oleh cinta kita
kepada uang. Kita perlu terus dekat dengan Tuhan, giat belajar
Firman-Nya, agar kita memiliki kepekaan dan hikmat dalam mengelola uang
kita. Ingatlah bahwa uang tidak dapat membeli hidup kekal bagi kita.
Tetapi, kita dapat menggunakan uang kita untuk hal-hal yang bernilai
bagi kekekalan.